Jumat, 18 Maret 2022

Poin Penting Permen PU 26 tahun 2008 kaitannya dengan Instalasi Sprinkler Kebakaran Bagian 1

 Berikut catatan ketika saya baca-baca Permen PU tahun 2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Catatan ini saya buat agar mudah mengingat kembali tentang poin yang saya kira penting dan sering ditanyakan.

    Bahwa dengan telah diundangkannya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung dan pengaturan pelaksanaannya, maka Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum Nomor 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan perlu disempurnakan dan diganti dengan peraturan menteri yang baru.

    Pada saat peraturan menteri ini mulai berlaku, Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum Nomor 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

    Kelas bangunan gedung, adalah pembagian bangunan gedung atau bagian bangunan gedung sesuai dengan jenis peruntukan atau penggunaan bangunan gedung, sebagai berikut: 

Kelas 1 : Bangunan gedung hunian biasa.

    Satu atau lebih bangunan gedung yang merupakan: 

Kelas 1a, bangunan gedung hunian tunggal yang berupa:

a) satu rumah tinggal; atau

b) satu atau lebih bangunan gedung gandeng, yang masing-masing bangunan gedungnya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api, termasuk rumah deret, rumah taman, unit town house, villa; atau

Kelas 1b, rumah asrama/kost, rumah tamu, hotel atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap, dan tidak terletak di atas atau di bawah bangunan gedung hunian lain atu banguan kelas lain selain tempat garasi pribadi.

Kelas 2 : Bangunan gedung hunian, terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. 

Kelas 3 : Bangunan gedung hunian di luar bangunan gedung kelas 1 atau kelas 2, yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan, termasuk:

1) rumah asrama, rumah tamu (guest house), losmen; atau

2) bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel; atau

3) bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah; atau

4) panti untuk lanjut usia, cacat atau anak-anak; atau

5) bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan gedung perawatan kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya.

Kelas 4 : Bangunan gedung hunian campuran.

Tempat tinggal yang berada di dalam suatu bangunan gedung kelas 5, 6, 7, 8 atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan gedung tersebut.

Kelas 5 : Bangunan gedung kantor. 

 Bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional, pengurusan administrasi, atau usaha komersial, di luar bangunan gedung kelas 6, 7, 8 atau 9.

Kelas 6 : Bangunan gedung perdagangan.

 Bangunan gedung toko atau bangunan gedung lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat, termasuk:

 1) ruang makan, kafe, restoran; atau 

2) ruang makan malam, bar, toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel; atau 

3) tempat potong rambut/salon, tempat cuci umum; atau 

4) pasar, ruang penjualan, ruang pamer, atau bengkel.

Kelas 7 : Bangunan gedung penyimpanan/Gudang.

Bangunan gedung yang dipergunakan untuk penyimpanan, termasuk:

1) tempat parkir umum; atau 

2) gudang, atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang.

Kelas 8 : Bangunan gedung Laboratorium/Industri/Pabrik. 

Bangunan gedung laboratorium dan bangunan gedung yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produk, perakitan, perubahan, perbaikan, pengepakan, finishing, atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan.

Kelas 9 : Bangunan gedung Umum.

Bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum, yaitu: 

1) Kelas 9a : bangunan gedung perawatan kesehatan, termasuk bagian-bagian dai bangunan gedung tersebut yang berupa laboratorium.

2) Kelas 9b : bangunan gedung pertemuan, termasuk bengkel kerja, laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan, hall, bangunan gedung peribadatan, bangunan gedung budaya atau sejenis, tetapi tidak termasuk setiap bagian dari bangunan gedung yang merupakan kelas lain.

Kelas 10 : Bangunan gedung atau struktur yang bukan hunian.

1) Kelas 10a : bangunan gedung bukan hunian yang merupakan garasi pribadi, carport, atau sejenisnya.

2) Kelas 10b : struktur yang berupa pagar, tonggak, antena, inding penyangga atau dinding yang berdiri bebas, kolam renang, atau sejenisnya. 

Springkler, adalah alat pemancar air untuk pemadaman kebakaranyang mempunyai tudung berbentuk deflektor pada ujung mulut pancarnya, sehingga air dapat memancar kesemua arah secara merata. Dalam pertanian ada juga jenis springkler yang digunakan untuk penyiraman tanaman.

Tidak mudah terbakar, adalah:(a) material/bahan yang tidak mudah terbakar sesuai standar. (b) konstruksi atau bagian bangunan gedung yang dibangun seluruhnya dari bahan yang tidak mudah terbakar.

Perpipaan springkler yang melayani tidak lebih dari enam springkler untuk setiap daerah berbahaya terisolasi harus diizinkan untuk disambung langsung ke pasokan air bersih Sistem Plambing yang memiliki kapasitas cukup untuk menyediakan air 6,1 mm/menit untuk seluruh daerah yang terisolasi tersebut. Sebuah katup penutup dengan indikator, diawasi sesuai butir 5.3.1.7 atau ketentuan SNI 03-3989-2000, atau edisi terbaru, harus dipasang dalam suatu lokasi yang terlihat, mudah dicapai, di antara springkler dan sambungan ke sistem pasokan air bersih Sistem Plambing.

Dalam daerah yang dilindungi dengan springkler otomatik, tidak diperlukan peralatan deteksi panas yang disyaratkan oleh bagian lain persyaratan teknis ini. 

Springkler yang berada di bawah atap (skylight) kaca atau plastik yang terkena langsung cahaya matahari harus dari klasifikasi temperatur-menengah.

Springkler yang berada dalam rongga tertutup tak berventilasi, di bawah atap tak berisolasi, atau di dalam loteng yang tak berventilasi, harus dari klasifikasi temperatur-menengah. 

Springkler yang melindungi peralatan masak jenis komersial dan sistem ventilasi harus dari klasifikasi temperatur-tinggi atau temperatur-extra-tinggi yang ditentukan dengan menggunakan alat pengukur temperatur 

Besmen dengan luas lebih dari 232 m2 dalam bangunan gedung baru harus dilindungi seluruhnya dengan sistem springkler otomatis yang disetujui OBS. 

Gedung baru yang menyediakan layanan darurat kebakaran, penyelamatan (rescue) dan ambulan harus dilindungi seluruhnya dengan sistem springkler otomatik yang disetujui OBS. 

Atap dan Kanopi Luar.

Dalam gedung yang dilindungi dengan otomatik springkler, harus disediakan proteksi springkler otomatik untuk ruang exterior sesuai ketentuan 

Springkler harus dipasang di bawah atap atau di bawah kanopi exterior yang lebarnya lebih dari 1,2 m (4 ft), kecuali bila persyaratan dalam butir dibawah dapat dipenuhi.

Springkler diizinkan tidak dipasang bila atap atau kanopi dari jenis konstruksi tidak dapat terbakar atau tidak mudah terbakar (limited combustible construction).

Springkler diizinkan untuk tidak dipasang di koridor eksit luar bila dinding luar koridor tersebut sekurang-kurangnya 50% terbuka dan bila seluruh koridor dari konstruksi tidak dapat terbakar (noncombustible).

Springkler harus dipasang di bawah atap atau di bawah kanopi di atas tempat penyimpanan dan penggarapan bahan dapat terbakar (combustibles).


 

Jumat, 11 Maret 2022

Unit Beban Alat Plambing dan Beban Maksimum Unit Alat Plambing untuk Air Limbah dan Ven

   

Unit beban alat plambing untuk air limbah 

Nilai unit beban alat plambing (UBAP) yang tercantum dalam Tabel berikut harus digunakan untuk menghitung jumlah beban pada pipa air limbah, pengering, dan ven, kecuali jika ditentukan lain.

Alat plambing atau
kelompok alat plambing
Ukuran perangkap/lengan perangkap minimum (inci) Pribadi (UBAP) Umum (UBAP) Tempat berkumpul (UBAP)
Bak mandi atau kombinasi mandi/shower

2,0
2,0
-
Bidet

1,0
-
-
Bidet

2,0
-
-
Mesin cuci pakaian, rumah tangga, pipa tegak5
2
3,0
3,0
3,0
Unit dental, peludahan
1-1/4
-
1,0
1,0
Mesin cuci piring rumah tangga dengan saluran sendiri2
1-1/2
2,0
2,0
2,0
Pancaran air minum atau alat pendingin air
1-1/4
0,5
0,5
1,0
Penggerus sisa makanan, komersial
2
-
3,0
3,0
Lubang pengering lantai, keadaan darurat
2
-
0,0
0,0
Lubang pengering lantai (untuk ukuran tambahan)
2
2,0
2,0
2,0
Shower, perangkap tunggal
2
2,0
2,0
2,0
Lavatori, tunggal
1-1/4
1,0
1,0
1,0
Lavatori, dalam set dua atau tiga
1-1/2
2,0
2,0
2,0
Washfountain
1-1/2
-
2,0
2,0
Washfountain
2
-
2,0
3,0
Receptor, buangan tidak langsung1,3
1-,/2



Receptor, buangan tidak langsung1,4
2



Receptor, buangan tidak langsung1
3



Sink/bak




  Bar
1-1/2
1,0
-
-
  Bar 2
1-1/2
-
2,0
2,0
  Klinik
3
-
6,0
6,0
  Komersial dengan sampah
  makanan2
1/1/2
-
3,0
3,0
  Bak cuci dapur untuk rumah
  tangga2 dengan atau tanpa
  unit; penggerus sisa
  makanan, mesin cuci piring,
  atau keduanya
1-1/2
2,0
2,0
-
  Laundry2 (dengan atau
  tanpa pipa pelepas dari  pencuci pakaian)
1-1/2
2,0
2,0
2,0
Pelayanan atau bak pel
2
-
3,0
3,0
Pelayanan atau bak pel
3
-
3,0
3,0
Kran pencuci, setiap set kran
-
-
2,0
2,0
Urinal, perangkap terpadu 3,8LPF2
2
2,0
2,0
5,0
Urinal, perangkap terpadu > 3,8LPF
2
2,0
2,0
6,0
Urinal, perangkap exposed2
1-1/2
2,0
2,0
5,0
Kloset, Tangki gelontor 6 LPF6
3
3,0
4,0
6,0
Kloset, Tangki pembilas 6 LPF6
3
3,0
4,0
6,0
Kloset, katup pembilas 6 LPF6
3
3,0
4,0
6,0
Kloset,Tangki gelontor > 6 LPF6
3
4
6,0
8,0
Kloset, flushometer > 6 LPF6
3
4
6,0
8,0

Sumber : UPC 2012-IAPMO tabel 702.1

CATATAN :

1)  Reseptor air limbah tidak langsung harus didasarkan pada ukuran kapasitas perlengkapan air
limbah total yang mengalir.

2) Minimum pipa pengering 2 inci (63 mm).

3) Untuk pendingin dan kebutuhan air yang sedikit untuk unit serupa.

4) Untuk sink komersial, mesin cuci piring, dan kebutuhan air yang banyak lainnya untuk unit serupa.

5) Bangunan yang mempunyai area pencucian pakaian dengan mesin cuci pakaian dengan tiga atau
lebih harus dinilai pada 6 UBAP setiap peralatan untuk ukuran pipa horisontal dan vertikal.

6) Kloset harus dihitung sebagai 6 UBAP.

Untuk menghitung total UBAP air limbah :  http://kalkulatorplambing.000webhostapp.com/19_ubapAirLimbah/ubapAirLimbah.php atau klik disini. 

Beban maksimum unit alat plambing

Beban maksimum alat plambing yang diijinkan untuk alat plambing yang dapat dihubungkan pada tiap pipa cabang datar atau pipa tegak air limbah, saluran pembuangan (pipa horisontal) bangunan gedung dan juga cabang saluran pembuangan bangunan gedung, pipa tegak dan ven ditentukan dari berikut kecuali bila ditentukan lain.

Ukuran pipa ( inci) 2 3 4 5 6 8 10 12
Maksimum Unit
Pipa air limbah1
Vertikal/tegak (UBAP)
Horisontal (UBAP)


1
1


2
1


16
8


32
14


48
35


256
216


600
428


1380
720


3600
2640


5600
4680


8400
8200
Panjang Maksimum
Pipa air limbah1
Vertikal/tegak (m)
Horisontal (tdk terbatas)


14



18



37



55



65



91



119



155



229



-



-

Pipa Ven
Horisontal dan vertikal
Maksimum Unit (UBAP)
Panjang maksimum (m)


1
45


8
60


24
120


48
180


84
212


256
300


600
390


1380
510


3600
750


-
-


-
-

Sumber : UPC 2012-IAPMO tabel 703.2

 Unit SI; I inci = 25 mm, 1 feet = 304,8 mm

CATATAN :

1)  Tidak termasuk lengan perangkap

2) Kecuali sink, urinal, dan mesin cuci piring – melebihi 1 UBAP

3) Kecuali enam unit perangkap atau kloset

4) Hanya empat kloset atau enam unit perangkap yang dibolehkan pada pipa vertikal atau pipa tegak, dan tidak melebihi tiga kloset atau enam unit perangkap pada cabang horisontal pipa air limbah

5) Berdasarkan ¼ inci per foot (20,8 mm/m) kemiringan. Untuk ⅛ inci per foot (10,4 mm/m)
kemiringan, kalikan nilai UBAP horisontal dengan faktor 0,8

6) Diameter pipa ven individu tidak boleh kurang dari 1¼ inci (32 mm) tidak juga kurang dari 1½
diameter pipa air limbah yang dihubungkan.

7) Beban unit alat plambing untuk air limbah dan pipa ven harus dihitung dari Tabel 11 dan Tabel 12.
Panjang pipa ven kurang dari sepertiga dari panjang pipa ven boleh dipasang pada posisi
horisontal. Bila diameter pipa ven meningkat, limit maksimum panjang tidak dapat digunakan tabel
di atas.

Atau bisa lewat http://kalkulatorplambing.000webhostapp.com/20_BebanMaksUAP/BebanMaksUAP.php atau klik disini

 

Nilai UBAP untuk aliran tidak kontinu

Unit alat plambing untuk aliran tidak kontinu sistem air limbah harus dihitung pada kapasitas pengaliran dalam satuan L/detik sesuai dengan Tabel.

L/detik Nilai unit beban alat plambing
Sampai 0,45 1
>0,45 s.d. 0,9 2
> 0,9 s.d. 1,8 4
>1,8 s.d. 3 6           

Ukuran maksimum unit alat plambing air limbah untuk perangkap

Maksimum beban unit alat plambing drainase untuk perangkap untuk ukuran sampai dengan 4 inci (100 mm) harus sesuai dengan Tabel.

Ukuran perangkap dan
lengan perangkap
(inci)
Nilai unit alat plambing
air limbah (UBAP)
1-1/4 1
1-1/2 3
2 4
3 6
4 8

Jarak maksimum ven dari perangkap alat plambing

Sambungan ven harus dipasang sedemikian rupa, sehingga panjang ukur saluran pembuangan alat plambing antara sambungan ven dan ambang perangkap alat plambing tidak melebihi jarak yang tercantum dalam Tabel

Ukuran saluran pembuangan
alat plambing
(inci)
Jarak maksimum ven
terhadap perangkap
a (cm)
1 75
1-1/4 105
2 150
3 180
4 300

Ukuran pipa tegak ven untuk ven basah melayani kelompok kamar mandi

Banyaknya Alat Plambing
yang Dilayani Ven Basah
Ukuran Pipa Tegak Ven
(inci)
1-2 bak mandi atau pancuran mandi (shower) 2
3-5 bak mandi atau pancuran mandi (shower) 2-1/2
6-9 bak mandi atau pancuran mandi (shower) 3
10-16 bak mandi atau pancuran mandi (shower) 4

Selasa, 01 Maret 2022

TABG – ME DKI JAKARTA CHECK LIST LAPORAN PENDAMPINGAN - BIDANG LISTRIK ARUS LEMAH (LAL)

BIDANG LISTRIK ARUS LEMAH (LAL)                                                            

PENDAMPINGAN KE-1 (PEMATANGAN KONSEP)

No Dokumen yang Diperlukan keterangan
I.
Deskripsi Proyek :
  1. Penjelasan singkat dari pemilik proyek tentang proyek bangunan gedung yang dikembangkan
  2. Laporan / Deskripsi proyek dengan gambaran singkat tentang fasilitas yang disediakan :
    1. Lokasi proyek;
    2. Fungsi bangunan gedung dengan uraian singkat tentang kegiatan yang akan dilakukan;
    3. Perkiraan jumlah penghuni (beban hunian) dan demografi;
  3. Tabulasi untuk menggambarkan penjelasan pada Butir (I.1 dan I.2)
  4. Perencana LAL & Izin Pelaku Teknis Bangunan (IPTB), kualifikasi - A yang masih berlaku.


II.
Data bangunan
Tabulasi Tabel:
  1. Jumlah tower, jumlah lantai, ketinggian bangunan gedung (meter), jumlah basemen, kedalaman basemen (meter);
  2. Perkiraan luas lantai;


III.
Peraturan Daerah, Gubernur dan Standar (SNI) dan Kriteria Perencanaan yang digunakan

IV.
Lingkup Perencanaan
  1. Sistem, Instalasi Deteksi dan Alarm Kebakaran
  2. Sistem, Instalasi Tata Suara
  3. Sistem, Instalasi Telepon dan Jaringan
  4. Sistem, Instalasi Closed Circuit Television (CCTV) & Electronic Security
  5. Sistem, Instalasi Building Automation System (BAS)
  6. Sistem, Instalasi Master Antena Television (MATV)


V.
Konsep Perencanaan
  1. Kriteria perencanaan
  2. Gambar Skematik sistem / Blok Diagram Sistem
  3. Tabel estimasi perhitungan setiap sistem.
  4. Layout dan besaran ruangan utama LAL yang sudah terkoordinasi dengan layout Arsitek (FCC, R.Kontrol, dll).


PENDAMPINGAN KE-2 & 3 (PERANCANGAN DETAIL)

No Dokumen yang Diperlukan keterangan
I.
Laporan dan Perhitungan Perencanaan :
  1. Perhitungan setiap Sistem
  2. Uraian Cara Kerja Setiap Sistem
  3. Outline Spek Teknis Sistem
  4. Lampiran Gambar Skematik Sistem


II.
Gambar Detail :
  1. Detail Skematik / Diagram Sistem
  2. Layout dan besaran ruangan utama LAL yang sudah terkoordinasi dengan layout Arsitek
  3. (FCC, Ruang Kontrol, Shaft-shaft, dll)
  4. Layout denah lantai tipikal setiap sistem
  5. Detail Gambar layout ruang utama sistem


Jumat, 25 Februari 2022

TABG – ME DKI JAKARTA CHECK LIST LAPORAN PENDAMPINGAN - BIDANG LISTRIK ARUS KUAT (LAK)

BIDANG LISTRIK ARUS KUAT (LAK)

PENDAMPINGAN KE-1 (PEMATANGAN KONSEP)

No Dokumen yang Diperlukan keterangan
I.
Deskripsi Proyek :
  1. Penjelasan singkat dari pemilik proyek tentang proyek bangunan gedung yang dikembangkan
  2. Laporan / Deskripsi proyek dengan gambaran singkat tentang fasilitas yang disediakan :
    1. Lokasi proyek;
    2. Fungsi bangunan gedung dengan uraian singkat tentang kegiatan yang akan dilakukan;
    3. Perkiraan jumlah penghuni (beban hunian) dan demografi;
    4. Material bangunan yang akan digunakan.
  3. Tabulasi untuk menggambarkan penjelasan pada Butir (I.1 dan I.2)


II.
Data bangunan
  1. Laporan pola, gubahan, dan bentuk bangunan gedung dalam bentuk gambar, yaitu :
    1. Rencana massa bangunan gedung;
    2. Rencana tapak;
    3. Denah;
    4. Tampak bangunan gedung;
    5. Potongan bangunan gedung; dan
    6. Visualisasi desain tiga dimensi.
  2. Laporan aspek kualitatif serta aspek kuantitatif, baik dalam bentuk laporan tertulis dan gambar seperti :
    1. Jumlah tower, jumlah lantai, ketinggian bangunan gedung (meter), jumlah basemen, kedalaman basemen (meter), jumlah unit rusun/apartemen);
    2. Perkiraan luas lantai;
    3. Informasi penggunaan bahan;
    4. Sistem konstruksi (konstruksi beton bertulang, konstruksi baja, dsb)
  3. Kriteria Perancangan berisikan penjelasan secara ringkas dasar perancangan serta besaran parameter utama yang ditetapkan untuk perancangan:
    1. Perhitungan Kebutuhan Daya, Normal, Gangguan, Keadaan Darurat.
    2. Neraca Penggunaan Daya (Kapasitas Trafo Distribusi, Daya yang dicadangkan, Kapasitas Genset)
    3. Dasar pemilihan sistem
    4. Dasar perhitungan dan asumsi-asumsi yang dipergunakan (Isc 3 fasa, Isc 1 fasa, Voltage Drop)
    5. Faktor keamanan dan faktor-faktor lainnya yang dipergunakan
    6. Upaya penerapan penghematan energi
    7. Bahan dan peralatan yang dipergunakan
  4. Tabulasi untuk menggambarkan penjelasan pada Butir (II.1 dan II.2)


III.
Kriteria Desain, Peraturan dan Standar (SNI)
Standar dan peraturan yang digunakan adalah edisi terakhir yang masih berlaku yang berkaitan langsung/tidak langsung dengan listrik arus kuat, antara lain: Dalam laporan perancangan, bila diperlukan untuk menjelaskan secara spesifik disebutkan nomor pasal/ayat yang terkait dari standar/peraturan yang digunakan.
  1. SNI No. 04-0255-2000 tentang Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL)
  2. SNI No. 03-7015-2004 tentang Sistem Proteksi Petir pada Bangunan Gedung.
  3. SNI 04-7019-2004, tentang Sistem Pasokan Daya Listrik Darurat menggunakan Energi Tersimpan.
  4. SNI 04-7018-2004, tentang Sistem Pasokan Daya Listrik Darurat dan Siaga.
  5. Standar Nasional Indonesia (SNI) yang berlaku dan yang berkaitan dengan tenaga listrik.
  6. Panduan Pencahayaan Sisi Luar Bangunan Tinggi dan Penting di Wilayah DKI Jakarta tahun 1999.
  7. Standar IEC dan Standar Internasional lainnya bagi hal-hal yang belum diatur dalam standar/peraturan diatas,.


IV.
Instalasi Sumber Daya: Daya Utama, Sumber Daya Darurat dan Sumber Daya Cadangan

V.
Instalasi Distribusi Tegangan Menengah

VI.
Instalasi Distribusi Tegangan Rendah:
  • Distribusi daya ke beban dan peralatan,
  • Distribusi dan sistem pencahayaan dalam bangunan,
  • Pencahayaan dekorasi,
  • Pencahayaan luar bangunan, dan
  • Pencahayaan rambu udara.


VII.
Instalasi pencahayaan darurat

VIII.
Instalasi pembumian: pemilihan sistem pembumian, pembumian sistem, pembumian peralatan, pembumian genset, pembumian transformator, dan pembumian pengaman, desain sistem pembumian

IX.
Instalasi Proteksi Petir meliputi: Sistem proteksi petir terhadap sambaran langsung / sistem proteksi pertir eksternal (instalasi penangkap, penghantar dan pembumian petir) dan sistem proteksi petir terhadap sambaran tidak langsung / sistem proteksi petir internal

PENDAMPINGAN KE-2 & 3 (PERANCANGAN DETAIL)

A. PERENCANAAN SISTEM DISTRIBUSI LISTRIK

Lingkup perencanaan Sistem Distribusi Listrik dimaksud meliputi:

  • Instalasi Sistem tenaga untuk Sumber Daya Utama, Sumber Daya Cadangan dan Sumber Daya Tak Terputus (UPS).
  • Instalasi Sistem Distribusi Tegangan Menengah & Trafo Distribusi.
  • Instalasi Sistem Distribusi Tegangan Rendah termasuk Sistem - Distribusi Daya dalam dan luar gedung.
  • Sistem UPS dan Distribusi Daya Listrik UPS.

No Dokumen yang Diperlukan keterangan
I.
Instalasi Sistem Tenaga :
  1. Sistem Sumber Daya :
    1. Sumber Daya Utama
    2. umber Daya Cadangan
    3. Sumber Daya Darurat
    4. Sumber Daya Tak terputus (UPS)
  2. Karakteristik sumber daya yang disyaratkan :
    1. Jenis-jenis beban & prioritas layanannya
    2. Konsep peralihan dari Sumber Daya Utama ke Sumber Daya Cadangan
    3. Konsep pengendalian Faktor Daya
    4. Konsep Pengendalian Harmonisa Arus & Tegangan
  3. Rumah genset & trafo (power house) :
    1. Layout Power House
    2. Penataan & Detail Jalur Kabel TR di Power House
    3. Diagram & Layout Sistem Grounding
    4. Rancangan &Perhitungan Sistem Ventilasi
    5. Rancangan Vibrasi Genset
    6. Rancangan Kebisingan Genset
    7. Rancangan & Perhitungan Sistem Bahan Bakar
    8. Implementasi sistem supervisi/ monitoring


II.
Instalasi Sistem Tegangan Menengah (PUTM) & Trafo Distribusi :
  1. Sistem dan jenis Kubikel yang diterapkan :
    1. Jenis Konstruksi Yang diipilih
    2. Sistem penghubung antara Pemutus Daya ke unit Transformator
  2. Jenis Pemutus Daya yang dipilih :
    1. Incoming
    2. Metering
    3. Ke Trafo
    4. Outgoing
  3. Perhitungan di Instalasi TM :
    1. Beban Maksimum Pemutus Daya
    2. Pemilihan Setting Koordinasi Proteksi
    3. Penentuan KHA & Penetapan Diameter Penghantar
    4. Penentuan KHA & Penetapan Dimensi Busbar
    5. Perhitungan Arus Hubung Pendek :
      • Hubung Pendek 3 Fasa
      • Hubung Pendek Fasa – Fasa
      • Hubung Pendek Fasa - Netral
  4. Trafo Distribusi :
    1. Jenis Trafo Yang Dipilih
    2. Penjelasan Hubungan Antar Belitan
    3. Pertimbangan Pemilihan Kapasitas
  5. Rumah gardu Instalasi PUTM & Trafo :
    1. Layout Ruang PUTM & Trafo
    2. Diagram & Layout Sistem Grounding
    3. Rancangan & Perhitungan Sistem Ventilasi
    4. Implementasi sistem supervisi/ monitoring


III.
Instalasi Sistem Tegangan Rendah :
  1. Sistem dan jenis Instalasi yang diterapkan :
    1. Jenis Konstruksi Kubikel Yang diipilih
    2. Sistem penghubung antara Trafo Distribusi ke Pemutus Daya di Panel Induk Tegangan Rendah
  2. Rumah gardu Instalasi Panel Utama Tegangan Rendah (PUTR) :
    1. Layout Ruang PUTR/Ruang Panel
    2. Sistem Grounding
    3. Sistem Ventilasi
    4. Implementasi sistem supervisi/ monitoring
  3. Perhitungan di Instalasi TR :
    1. Beban Maksimum Pemutus Daya
    2. Pemilihan Setting Koordinasi Proteksi
    3. Penentuan KHA & Penetapan Diameter Penghantar
    4. Penentuan KHA & Penetapan Dimensi Busbar
    5. Perhitungan Arus Hubung Pendek :
      • Hubung Pendek 3 Fasa
      • Hubung Pendek Fasa – Fasa
      • Hubung Pendek Fasa - Netral
  4. Perhitungan Kebutuhan Daya :
    1. Beban Normal
    2. Beban Gangguan
    3. Beban Keadaan Darurat
  5. Neraca Penggunaan Daya :
    1. Kapasitas Trafo Distribusi
    2. Daya Spare Yang Dicadangkan
    3. Kapasitas Genset Yang Dipilih
  6. Perhitungan Per Komponen Beban :
    1. Beban Lampu Penerangan
    2. Beban Kotak Kontak Daya
    3. Beban Peralatan Khusus
    4. Beban Sistem Ventilasi & Tata Udara Gedung
    5. Beban Sistem Transportasi Dalam Gedung
    6. Beban Pompa Sistem Drainase & Plambing
    7. Beban Pompa Perlawanan Kebakaran
  7. Penentuan Kapasitas Sumber Daya :
    1. Sumber Daya Listrik Utama
    2. Sumber Daya Listrik Cadangan
    3. Sumber Daya Listrik Keadaan Darurat
  8. Perhitungan di Instalasi TR :
    1. Beban Maksimum Pemutus Daya
    2. Pemilihan Setting Koordinasi Proteksi
    3. Penentuan KHA & Penetapan Diameter Penghantar
    4. Penentuan KHA & Penetapan Dimensi Busbar
    5. Perhitungan Arus Hubung Pendek :
      • Hubung Pendek 3 Fasa
      • Hubung Pendek Fasa – Fasa
      • Hubung Pendek Fasa - Netral
    6. Analisis/Perhitungan Faktor Daya
    7. Analisis/Perhitungan Harmonisa Arus & Tegangan :
      • Referensi Harmonisa Lampu Penerangan
      • Referensi Harmonasi Peralatan Kantor via Kotak Kontak Biasa
      • Referensi Harmonisa Peralatan VSD/ Inverter Sistem AC
      • Referensi Harmonisa Peralatan VSD/ Inverter Fan/Blower
      • Referensi Harmonisa Peralatan VSD/Inverter Elevator
      • Referensi Harmonisa Peralatan VSD/Inverter Pompa-Pompa
      • Referensi Harmonisa Peralatan VSD/Inverter Pompa Kebakaran
      • Referensi Harmonisa Peralatan Khusus


B. PERENCANAAN SISTEM PROTEKSI PETIR

Persyaratan sistem proteksi petir harus memenuhi SNI 03-7015-2004 Sistem Proteksi Petir Pada Bangunan Gedung.
Lingkup Perencanaan Sistem Proteksi Petir (internal dan eksternal) dalam gedung tinggi, meliputi:

  • Instalasi Penangkap
  • Instalasi Penyalur
  • Instalasi Pembumian (Pengetanahan)

No Dokumen yang Diperlukan keterangan
I.
ACUAN NORMATIF :
  1. Peraturan :
    1. Peraturan yang harus ditaati
    2. Matrik Korelasi Peraturan Dengan Subtsansi Perencanaan
  2. Standar :
    1. Standar yang menjadi acuan tata cara perencanaan
    2. Matrik Korelasi Standar Dengan Susbstansi Perencanaan


II.
KRITERIA PERENCANAAN :
  1. Konsep Proteksi Petir Yang Diterapkan :
    1. Uraian Penjelasan Konsep SPP yang dipilih
    2. Alasan Pemilihan SPP dimaksud
    3. Proteksi Sambaran Langsung (Proteksi Eksternal)
    4. Proteksi Sambaran Tidak Langsung (Proteksi Internal)
  2. Perhitungan Sistem Proteksi Petir :
    1. Penentuan Probabilitas Arus Petir
    2. Manajemen Resiko dan Penetapan konsep LPZ
    3. Perhitungan Arus Gangguan Petir & Penentuan Jumlah Titik Pembumian
    4. Penetapan Ukuran & Jenis Penghantar Penyalur Petir
    5. Proteksi Petir Internal


III.
GAMBAR PERENCANAAN :
  1. Diagram Sistem Proteksi Petir
  2. Layout Instalasi Aerial Penangkap Petir
  3. Layput Instalasi Pembumian Penyalur Petir
  4. Detail Penangkap Petir, Kabel Penghantar (Down Conductor) dan Titik Pembumian
  5. Detail Sistem Proteksi Petir Internal


C. PERENCANAAN SISTEM PEMBUMIAN

Perencanaan sistem pembumian meliputi penentuan sistem pembumian yang akan digunakan, konsep pembumian sistem, konsep pembumian peralatan dan konsep pembumian pengaman, perhitungan kabel dan konduktor pembumian, desain sistem pembumian.

No Dokumen yang Diperlukan keterangan
I.
ACUAN NORMATIF :
  1. Peraturan :
    1. Peraturan yang harus ditaati
    2. Matrik Korelasi Peraturan Dengan Subtsansi Perencanaan
  2. Standar :
    1. Standar yang menjadi acuan tata cara perencanaan
    2. Matrik Korelasi Standar Dengan Susbstansi Perencanaan


II.
KRITERIA PERENCANAAN :
  1. Konsep Sistem Pembumian Yang Diterapkan :
    1. Uraian Penjelasan Konsep Sistem Pembumian yang dipilih
    2. Alasan Pemilihan Sistem Pembumian dimaksud
    3. Pembumian Sistem
    4. Pembumian Peralatan
    5. Pembumian Pengaman
    6. Pembumian Genset
    7. Pembumian Transformator
  2. Perhitungan Sistem Pembumian :
    1. Penentuan Kabel Pembumian
    2. Penentuan Jenis dan Dimensi Konduktor Pembumian
    3. Penentuan Jumlah dan Lokasi Titik Pembumian


III.
GAMBAR PERENCANAAN :
  1. Diagram Sistem Pembumian
  2. Layout Instalasi Sistem Pembumian
  3. Layout Instalasi Pembumian Penyalur Petir
  4. Detail Titik Pembumian


Kamis, 24 Februari 2022

TABG – ME DKI JAKARTA CHECK LIST LAPORAN PENDAMPINGAN - BIDANG TATA UDARA GEDUNG (TUG

BIDANG TATA UDARA GEDUNG (TUG)

PENDAMPINGAN KE-1 (PEMATANGAN KONSEP)

No Dokumen yang Diperlukan keterangan
I.
Deskripsi Proyek :
  1. Penjelasan singkat dari pemilik proyek tentang proyek bangunan gedung yang dikembangkan
  2. Laporan / Deskripsi proyek dengan gambaran singkat tentang fasilitas yang disediakan :
    1. Lokasi proyek;
    2. Fungsi bangunan gedung dengan uraian singkat tentang kegiatan yang akan dilakukan;
    3. Perkiraan jumlah penghuni (beban hunian) dan demografi;
    4. Material bangunan yang akan digunakan.
  3. Tabulasi untuk menggambarkan penjelasan pada Butir (I.1 dan I.2)


II.
Data bangunan
  1. Laporan pola, gubahan, dan bentuk bangunan gedung dalam bentuk gambar, yaitu :
    1. Rencana massa bangunan gedung;
    2. Rencana tapak;
    3. Denah;
    4. Tampak bangunan gedung;
    5. Potongan bangunan gedung; dan
    6. Visualisasi desain tiga dimensi.
  2. Laporan aspek kualitatif serta aspek kuantitatif, baik dalam bentuk laporan tertulis dan gambar seperti :
    1. Jumlah tower, jumlah lantai, ketinggian bangunan gedung (meter), jumlah basemen, kedalaman basemen (meter), jumlah unit rusun/apartemen);
    2. Perkiraan luas lantai;
    3. Informasi penggunaan bahan;
    4. Sistem konstruksi (konstruksi beton bertulang, konstruksi baja, dsb)
  3. abulasi untuk menggambarkan penjelasan pada Butir (II.1 dan II.2)


III.
Kriteria Desain, Peraturan dan Standar (SNI)

IV.
Kondisi perancangan udara luar

V.
Kondisi perancangan udara dalam ruangan

VI.
Pemilihan sistem, diagram skematik sistem tata udara dan ventilasi

VII.
Sistem pengendalian asap

VIII.
Diagram sistem pressurized fan dan evakuasi asap (bila diperlukan)

IX.
Diagram sistem ventilasi ruang parkir basement

X.
Perkiraan beban pendingin

XI.
Perkiraan intensitas konsumsi energi

PENDAMPINGAN KE-2 & 3 (PERANCANGAN DETAIL)

No Dokumen yang Diperlukan keterangan
I.
SISTEM TATA UDARA
  1. Koefisien Perpindahan Kalor Material
  2. Rincian Perhitungan Beban Pendingin
  3. Proses Udara pada Diagram Psikrometrik
  4. Tabel Resume Beban Pendingin dari AHU/FCU
  5. Tabel Pemakaian Daya Listrik
  6. Rincian Perhitungan Pemipaan Chilled water dan Condenser Water berikut perhitungan Pompa
  7. Rincian Perhitungan Pipa Refrigerant Sistem VRF
  8. Rincian Perhitungan Refrigerant Concentration Limit lengkap dengan Tabel Konsumsi Refrigeran tiap Ruang


II.
SISTEM VENTILASI MEKANIS
  1. Rincian Perhitungan Cerobong; suppy air, return air dan fresh air, perhitungan SP dan daya Fan AHU, FCU
  2. Rincian Perhitungan Ventilasi Ruang (toiet, dapur, ruang ME, berikut perhitungan SP dan daya Fan)
  3. Rincian Perhitungan Ventilasi Ruang Parkir Bawah Tanah (berikut perhitungan SP dan daya Fan)


III.
SISTEM VENTILASI TANGGA KEBAKARAN & PEMBUANGAN ASAP
  1. Perhitungan Presurisasi Otomatis Tangga Kebakaran
  2. Perhitungan SP dan daya Fan
  3. Perhitungan Pembuangan Asap (berikut perhitungan SP dan daya extract Fan)
  4. Perhitungan Presurisasi Lantai Refuge, Lobi Lif, Vestibule


IV.
KONSERVASI ENERGI
  1. Perhitungan Intensitas Konsumsi Energi


V.
MATERIAL DAN PERALATAN UTAMA
  1. Pipa dan Sambungan/Fitting Chilled Water
  2. Saluran Udara/Ducting Bahan/Material
  3. Isolasi
    • Pipa Chilled Water
    • Saluran Udara/Ducting
    • Acoustic Ductliner
    • Peralatan Pendukung
    • Metal Cladding
  4. Water Cooled Electric Chiller
  5. Cooling Tower
  6. Pompa Chiller dan Cooling Tower
  7. Fan Coil Unit (FCU)
  8. Split Unit
  9. VRF
  10. Fan
    • AHU
    • Pressurized Fan
    • Extract Fan
    • Impulse Fan
    • Supply and Exhaust Fan Bismen
    • Exhaust Fan Toilet, Pantry, R.ME dll


VI.
GAMBAR
  1. Diagram Sistem Tata Udara dan Ventilasi
  2. Diagram Skematik Chiller Plant
  3. Diagram Pemipaan Air Sejuk dan Air Kondenser
  4. Daftar Peralatan Mesin Tata Udara dan Ventilasi
  5. Denah Instalasi Tata Udara dan Ventilasi Site Plan
  6. Denah Instalasi Tata Udara dan Ventilasi Lantai Tipikal
  7. Denah Instalasi Tata Udara dan Ventilasi Lantai Refuge
  8. Denah Instalasi Tata Udara dan Ventilasi Lantai Ruang ME
  9. Detail Pemasangan Mesin Tata Udara Indoor dan Outdoor
  10. Detail Perlengkapan dan Peralatan Mesin Tata Udara dan Ventilasi


TABG – ME DKI JAKARTA CHECK LIST LAPORAN PENDAMPINGAN - BIDANG TRANSPORTASI DALAM GEDUNG (TDG)

BIDANG TRANSPORTASI DALAM GEDUNG (TDG)

PENDAMPINGAN KE-1 (PEMATANGAN KONSEP)

No Dokumen yang Diperlukan keterangan
I.
Deskripsi Proyek :
  1. Penjelasan singkat dari pemilik proyek tentang proyek bangunan gedung yang dikembangkan
  2. Laporan / Deskripsi proyek dengan gambaran singkat tentang fasilitas yang disediakan :
    1. Lokasi proyek;
    2. Fungsi bangunan gedung dengan uraian singkat tentang kegiatan yang akan dilakukan;
    3. Perkiraan jumlah penghuni (beban hunian) dan demografi;
    4. Material bangunan yang akan digunakan.
  3. Tabulasi untuk menggambarkan penjelasan pada Butir (I.1 dan I.2)


II.
Data bangunan
  1. Laporan pola, gubahan, dan bentuk bangunan gedung dalam bentuk gambar, yaitu :
    1. Rencana massa bangunan gedung;
    2. Rencana tapak;
    3. Denah;
    4. Tampak bangunan gedung;
    5. Potongan bangunan gedung; dan
    6. Visualisasi desain tiga dimensi.
  2. Laporan aspek kualitatif serta aspek kuantitatif, baik dalam bentuk laporan tertulis dan gambar seperti :
    1. Jumlah tower, jumlah lantai, ketinggian bangunan gedung (meter), jumlah basemen, kedalaman basemen (meter), jumlah unit rusun/apartemen);
    2. Perkiraan luas lantai;
    3. Informasi penggunaan bahan;
    4. Sistem konstruksi (konstruksi beton bertulang, konstruksi baja, dsb)
Tabulasi untuk menggambarkan penjelasan pada Butir (II.1 dan II.2)

III.
Data Transportasi Dalam Gedung
  1. Elevator
    1. Tipe dan Jumlah lift penumpang;
    2. Tipe dan Jumlah lift service dan/atau kebakaran;
  2. Tipe dan jumlah escalator
  3. Tipe dan jumlah gondola
Tabulasi untuk menggambarkan penjelasan pada Butir (III.1 - III.3)

PENDAMPINGAN KE-2 & 3 (PERANCANGAN DETAIL)

No Dokumen yang Diperlukan keterangan
I.
Kriteria Desain, Peraturan dan Standar (SNI).
Laporan tentang pemenuhan kriteria desain, sesuai Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, Peraturan Daerah, Standar (SNI), dan Referensi lainnya.
  1. Standar dan Peraturan secara Umum
  2. Standar dan Peraturan terkait TDG
  3. Uraian Dasar Perancangan terkait penggunaan jenis dan jumlah TDG (Lift Penumpang, Lift Kebakaran, Lift Barang, Pelayanan, Eskalator, Travelator dan Gondola).
  4. Dskripsi Kriteria Desain menggunakan standar dan Peraturan yang berlaku: bangunan apartemen (PerMen PU No 26/PRT/M/2008),
  5. Total Average Waiting Time dan Percentage 5 minute Handling Capacity Sistem TDG menurut SNI 03-6573- 2001 Sub bab 5.2.2. Tabel 5.2.2
  6. Lift kebakaran akan mencapai lantai pengeluaran yaitu lantai dasar kurang dari 60 detik dari lantai tertinggi (SNI 03-6573-2001 Sub bab 6.2.2. point d).


II.
LINGKUP PEKERJAAN
  1. Identifikasi lingkup pekerjaan yang akan dilaksanakan serta dasar perencanaannya
  2. Identifikasi Jumlah penghuni setiap lantai dan bangunan keseluruhan,
  3. Jumlah lantai yang akan dilayani elevator
  4. Gambar sketsa/denah untuk shaft Elevator
  5. Pembagian zona (single zone, multi zone)
  6. Penentuan waktu puncak pelayanan (Faktor Keserempakan asumsi minimal 80%)
  7. Tabel jumlah elevator dan Kapasitas angkut dilengkapi dgn dimensi ruang serta pintu elevator.
  8. Traffic Analysis menghitung 5mnt Handling Capacity Elevator dan Waktu tunggu (Waiting Time) agar sesuai dengan syarat batas kriteria untuk bangunan yang dipilih
  9. Analisis Faktor Keserempakan sesungguhnya dengan mengambil batas kriteria min 5mnt HC dan batas kriteria maks Waiting Time dari hasil perhitungan traffic analysis sebelumnya pada point 8.
  10. Daya listrik yang dbutuhkan


III.
Sistem TDG Lift (Elevator)
  1. Lift Penumpang.
    1. Jumlah penghuni setiap lantai dan bangunan keseluruhan.
    2. Jumlah lantai yang dilayani.
    3. Pembagian zona, single zone, multy zone.
    4. Waktu puncak.
    5. Kapasitas, ukuran kereta dan lebar pintu elevator.
    6. Handling Capacity (HC) 5 menit.
    7. Waktu tunggu (waiting time) maksimum yang dipilih.
    8. Sistem keselamatan dalam keadaan darurat
  2. Lift Kebakaran
    1. Jumlah pengguna
    2. Jumlah lantai yang dilayani.
    3. Pembagian zona
    4. Waktu puncak
    5. Kapasitas, ukuran kereta dan lebar pintu elevator
    6. 5 minutes Handling Capacity
    7. Waktu tunggu (waiting time) maksimum yang dipilih
    8. Waktu tempuh maksimum dari lantai dasar/lobby utama sampai lantai teratas maksimum 60 detik.
    9. Sistem suplai daya listrik darurat
    10. Sistem keselamatan dalam keadaan darurat
  3. Lift Barang
    1. Jumlah lantai yang dilayani.
    2. Kapasitas, ukuran kereta dan lebar pintu elevator
    3. Sistem keselamatan dalam keadaan darurat
  4. Lift Pelayanan (Dumbwaiter)
    1. Beban pelayanan
    2. Jumlah lantai yang dilayani.
    3. Kapasitas, ukuran kereta dan lebar pintu elevator
    4. Waktu tunggu (waiting time) maksimum yang dipilih
    5. Waktu tempuh maksimum
    6. Sistem keselamatan dalam keadaan darurat


IV.
Sistem TDG Eskalator dan Travelator.
  1. Eskalator (Tangga Berjalan)
    1. Jumlah penghuni lantai-lantai yang akan dilayani
    2. Pembagian Zona dan luas Zona pelayanan
    3. Kapasitas
    4. Lebar, tinggi tempuh dan sudut kemiringan tangga
    5. Kecepatan
    6. Pengaturan gerak (naik dan turun) escalator
    7. Sistem pengaman dalam keadaan darurat
  2. Travelator (Lantai Berjalan )
    1. Jumlah penghuni lantai yang akan dilayani
    2. Pembagian zona dan luas zona pelayanan.
    3. Kapasitas dan lebar lantai gerak
    4. Kecepatan gerak
    5. Pengaturan gerak
    6. Sistem keselamatan dalam keadaan darurat


V.
Sistem TDG Gondola :
  1. Tinggi bagian gedung yang dilayani
  2. Luas keliling gedung
  3. Luas dan jenis permukaan kulit luar gedung/ bangunan (kaca/ aluminium/ granit dan lain-lain) yang dilayani
  4. Sistem operasional (durasi, peralatan dan jumlah operator
  5. Perhitungan rancangan beban gondola
  6. Sistem struktur gondola, penggantung dan penyangga, sistem penggerak dan kesimbangan struktur.
  7. Sistem keselamatan dalam keadaan darurat
  8. Jumlah dan jenis gondola yang diperlukan untuk membersihkan permukaan dinding luar bangunan, disesuaikan dengan bentuk atap gedung.
  9. Daya listrik yang diperlukan.
  10. Analisis waktu yang diperlukan untuk membersihkan permukaan dinding luar.
  11. Analisis keseimbangan gondola terhadap bahaya terguling dan faktor keselamatannya (safety factor).
  12. Analisis kekuatan dan defleksi rel.


VI.
GAMBAR RANCANGAN
Gambar rancangan yang diserahkan untuk diperiksa adalah gambar rancangan mutakhir yang sesungguhnya akan dibangun dan sekurang-kurangnya meliputi gambar berikut:
  1. Lift, eskalator, lantai jalan, dumbwaiter (untuk bagian yang relevan) :
      • Daftar gambar lengkap.
        Daftar simbol, singkatan dan artinya.
        Gambar diagram sistem TDG
        Gambar tapak bangunan yang menunjukan lokasi gedung dengan rencana jalur lalu lintas dalam keadaan normal maupun darurat kebakaran, khususnya jalur untuk evakuasi penghuni, petugas dan kendaraan pemadam kebakaran
        Gambar lantai tipikal, yang menunjukkan lokasi peralatan transportasi dan jalur lalu lintas penumpang, barang maupun petugas pemadam kebakaran, baik berupa gambar potongan maupun denah.
        Gambar ruang mesin, meliputi denah dan potongan ruang mesin yang menunjukkan tata letak peralatan, beban mesin terhadap struktur bangunan dan ventilasi
        Gambar sistem transportasi yang menunjukan letak dan detil pintu, sumuran (pit) pada setiap lift.
        Gambar potongan ruang luncur (hoistway), yang menunjukkan ruang mesin, kereta, beban pengimbang, sumuran (pit), balok pemisah, jarak antar lantai, travel, overhead dan ukuran penting lainnya.
        Gambar detil, meliputi gambar yang dianggap perlu untuk lebih memperjelas sistem maupun peralatan kontrol, mesin dan gaya reaksi (dari pilihan yang terberat), letak emergency switch, fire switch, guide rail, hoisting hook, separator beam dan sebagainya
  2. Gondola :
      • Gambar denah atap yang menunjukkan posisi dan jalur gondola.
        Gambar Sistem rel dan penambatan.
        Gambar Sistem penggantung.
        Gambar detail gondola, kereta, sistem daya listrik, sistem kontrol dan keselamatan


VII.
Pertimbangan kemudahan kegiatan inspeksi, pengujian dan pemeliharaan.
Deskripsi mengenai pentingnya akses untuk memfasilitasi kegiatan inspeksi, pengujian dan pemeliharaan sistem keselamatan Transportasi Dalam Gedung.

Selasa, 22 Februari 2022

TABG – ME DKI JAKARTA CHECK LIST LAPORAN PENDAMPINGAN - BIDANG SANITASI, DRAINASE DAN PEMIPAAN – PROTEKSI KEBAKARAN (SDP – PK)

BIDANG SANITASI, DRAINASE DAN PEMIPAAN – PROTEKSI KEBAKARAN (SDP – PK)

PENDAMPINGAN KE-1 (PEMATANGAN KONSEP)

No Dokumen keterangan
I.
Deskripsi Proyek :
  1. Penjelasan singkat dari pemilik proyek tentang proyek bangunan gedung yang dikembangkan
  2. Laporan / Deskripsi proyek dengan gambaran singkat tentang fasilitas yang disediakan :
    1. Lokasi proyek, ketersediaan hydrant kota dan lokasi pos pemadam kebakaran terdekat;
    2. Fungsi bangunan gedung dengan uraian singkat tentang kegiatan yang akan dilakukan;
    3. Perkiraan jumlah penghuni (beban hunian) dan demografi;
    4. Material bangunan yang akan digunakan.
  3. Tabulasi untuk menggambarkan penjelasan pada Butir (1.1 dan 1.2)

II.
Data bangunan
  1. Laporan pola, gubahan, dan bentuk bangunan gedung dalam bentuk gambar, yaitu :
    1. Rencana massa bangunan gedung;
    2. Rencana tapak;
    3. Denah;
    4. Tampak bangunan gedung;
    5. Potongan bangunan gedung; dan
    6. Visualisasi desain tiga dimensi.
  2. Laporan aspek kualitatif serta aspek kuantitatif, baik dalam bentuk laporan tertulis dan gambar seperti :
    1. Jumlah tower, jumlah lantai, ketinggian bangunan gedung (meter), jumlah basemen, kedalaman basemen (meter), jumlah unit rusun/apartemen);
    2. Perkiraan luas lantai;
    3. Informasi penggunaan bahan;
    4. Sistem konstruksi (konstruksi beton bertulang, konstruksi baja, dsb)
  3. Tabulasi untuk menggambarkan penjelasan pada Butir (2.1 dan 2.2)


III.
Kriteria Desain, Peraturan dan Standar (SNI) Sistem keselamatan dan proteksi kebakaran

IV.
Skenario Kebakaran
  1. Identifikasi lokasi dengan risiko kebakaran yang tinggi hingga rendah.
  2. Identifikasi upaya pencegahan penggunaan material bangunan dan sistem utilitas dengan risiko kebakaran dan menghasilkan asap yang berbahaya.
  3. Identifikasi material isi bangunan gedung dan tingkat risiko kebakarannya.
  4. Gambar sketsa/denah untuk (4.1 s.d. 4.3)


V.
Strategi Penyelamatan Jiwa
  1. Deskripsi strategi penyelamatan jiwa penghuni menuju tempat berhimpun, ketersediaan area of refuge, refuge floor, dsb., serta mencakup deskripsi rute penyelamatan yang akan diambil oleh penghuni di dalam gedung dalam skenario kebakaran pada Butir 4.
  2. Deskripsi, desain peletakan, jumlah sarana penyelamatan jiwa, dan pressurisasi tangga kebakaran, untuk menjangkau seluruh bagian gedung.
  3. Deskripsi sarana peringatan dini (sistem deteksi dan sistem alarm kebakaran); catu daya darurat; penerangan evakuasi darurat; sistem komunikasi suara darurat; pengendalian darurat untuk lift.
  4. Gambar sketsa/denah untuk (5.1 s.d. 5.3)


VI.
Strategi pencegahan dan pengendalian asap dan api kebakaran pada bangunan gedung
  1. Deskripsi mengenai strategi kompartemenisasi asap dan api kebakaran (pada basement, ruang berukuran besar, lantai tipikal dan atrium).
  2. Deskripsi mengenai sistem pembuangan asap kebakaran (basemen, atrium, lantai tipikal, ruang berukuran besar, ruang utilitas: ruang electric/trafo/capacitor bank, dsb.)
  3. Deskripsi strategi pencegahan penyebaran api vertical dan horizontal di dalam dan di luar bangunan gedung.
  4. Gambar sketsa/denah untuk menjelaskan (6.1 s.d. 6.3)


VII.
Strategi proteksi kebakaran berbasis air dan khusus (clean agent, dsb.).
  1. Deskripsi mengenai strategi proteksi kebakaran berbasis air (sistem zona tunggal, zona jamak)
  2. Peletakan tangka air, ruang pompa, jenis pompa,
  3. Gambar sketsa/denah untuk menjelaskan (7.1 s.d. 7.2)


VIII.
Strategi penyediaan akses petugas dan sirkulasi kendaraan pemadam kebakaran dan penyelamatan
  1. Strategi untuk penyediaan akses petugas pemadam kebakaran dan penyelamatan.
  2. Strategi desain sirkulasi kendaraan pemadam kebakaran dan penyelamatan.
  3. Strategi penyediaan Fire Command Centre.
  4. Gambar sketsa/denah untuk menjelaskan (8.1)


IX.
Pertimbangan kemudahan kegiatan inspeksi, pengujian dan pemeliharaan.
  • Deskripsi mengenai pentingnya akses untuk memfasilitasi kegiatan inspeksi, pengujian dan pemeliharaan sistem keselamatan dan proteksi kebakaran.


PENDAMPINGAN KE-2 & 3 (PERANCANGAN DETAIL)

No Dokumen yang Diperlukan keterangan
I.
Skenario Kebakaran
  1. Penentuan api rancangan (Design Fires) (MW)
  2. Perhitungan pertumbukan kebakaran dan laju pemenuhan asap


II.
Sarana Penyelamatan Jiwa
  1. Rute evakuasi dan penyelamatan
    • Gambar rute penyelamatan penghuni di dalam gedung dalam skenario kebakaran
  2. Sarana penyelamatan jiwa
    • Gambar detail tangga darurat kebakaran, peletakan, jumlah sarana penyelamatan jiwa untuk menjangkau seluruh bagian gedung.
    • Gambar detail desain catu daya darurat; penerangan evakuasi darurat; sistem komunikasi suara darurat; pengendalian darurat untuk lift.
  3. Perhitungan waktu evakuasi
    • Laporan perhitungan waktu evakuasi penghuni. Lengkapi dengan hasil simulasi / pemodelan evakuasi untuk bangunan gedung yang dipersyaratkan.
  4. Sistem pressurisasi tangga darurat kebakaran
    • Perhitungan sistem pressurisasi tangga darurat kebakaran sesuai SNI yang berlaku.
  5. Sistem deteksi dan alarm kebakaran
    • Perancangan dan gambar desain sistem deteksi dan alarm kebakaran sesuai dengan jenis kebakaran.


III.
Sistem Proteksi Kebakaran Pasif
  1. Kompartemenisasi
    • Gambar detail sistem kompartemenisasi asap dan api kebakaran (pada basement, ruang berukuran besar, lantai tipikal dan atrium), lengkap dengan spesifikasi material yang digunakan.
  2. Pemilihan material untuk kompartemenisasi
    • Pemilihan Tingkat ketahanan api (TKA) dinding kompartemen sesuai dengan potensi bahaya kebakaran
  3. Sistem pembuangan asap kebakaran
    • Detail design dan perhitungan sistem pembuangan asap kebakaran untuk lantai basement, atrium, lantai tipikal, ruang berukuran besar, ruang utilitas: ruang electric/trafo/capacitor bank, dsb.
  4. Sistem pengendalian penyebaran asap dan api kebakaran
    • Detail desain dan pemilihan material pencegahan penyebaran api vertical dan horizontal di dalam dan di luar bangunan gedung (fire stopping materials).


IV.
Sistem Proteksi Kebakaran Aktif Berbasis Air
  1. Penjelasan prosedur kerja sistem proteksi kebakaran berbasis air, urutan kerja dan sistem kendali.
  2. Kriteria Desain sistem (berdasarkan peraturan & standar), (a) debit dan tekanan hidran, (b) debit dan tekanan sprinkler, (c) tekanan dan kecepatan maksimum dalam pipa, dll.
  3. Gambar isometri sistem secara detail, termasuk pembagian zona (untuk sistem zona tunggal, atau zona jamak).
  4. Peletakan dan perhitungan kebutuhan tangki air, ruang pompa, pompa dan pipa tegak; gambar detail - denah dan potongan
  5. Perhitungan hidrolik sistem proteksi kebakaran berbasis air, sprinkler, dan hidrant.
  6. Perhitungan sistem PRV dan orifis.
  7. Pemilihan pompa kebakaran dilengkapi dengan kurva pompa dan penandaan titik-titik kerja pompa sesuai dengan persyaratan yang berlaku.
  8. Gambar detail sistem dan peralatan hidrant, sprinkler, Siamese connection, dan landing valve.


V.
Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dan Sistem Proteksi Kebakaran khusus
  1. Tabulasi kebutuhan, jenis APAR dan lokasi peletakan APAR
  2. Pemilihan jenis, spesifikasi, dan perhitungan desain sistem proteksi kebakaran khusus.


VI.
Akses petugas dan sirkulasi kendaraan pemadam kebakaran dan penyelamatan
  1. Gambar denah dan potongan untuk akses petugas pemadam kebakaran (saf pemadam kebakaran dan penyelamatan).
  2. Gambar denah dan potongan untuk kendaraan pemadam kebakaran dan penyelamatan, serta peletakan hard-standing.
  3. Gambar denah peletakan, ukuran dan peralatan yang ada di Fire Command Centre


VII.
Pengendalian lift pada keadaan darurat
  1. Deskripsi mengenai pengendalian fungsi lif dalam keadaan darurat, mencakup uraian tentang urutan kejadian jika:
    1. listrik mati;
    2. darurat kebakaran; dan
    3. kegagalan daya dan darurat kebakaran


VIII.
Inspeksi, pengujian dan pemeliharaan
  • Deskripsi mengenai pentingnya kegiatan inspeksi, pengujian dan pemeliharaan sistem keselamatan dan proteksi kebakaran.