Tampilkan postingan dengan label PFE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PFE. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Maret 2015

Alat Pemadam Api Ringan / Portable Fire Extinguisher (NFPA 10) -- (2)

Distribusi APAR kelas A

Tabel Penempatan dan Ukuran APAR untuk Bahaya Kelas A








  • Jumlah minimum APAR untuk bahaya Kelas A untuk tiap lantai harus ditentukan dengan membagi luas  lantai keseluruhan dengan luas maksimum yang diproteksi per APAR seperti tabel di atas.
Distribusi APAR Kelas B
Tabel Penempatan dan Ukuran APAR untuk Bahaya Kelas B


Apar kelas B tidak boleh dipasang sebagai satu-satunya proteksi untuk bahaya zat cair mudah terbakar dengan kedalaman cukup besar dimana luas permukaanya melbihi 10ft2 (0.93m2)

Distribusi APAR Kelas C

Karena kebakaran merupakan bahaya Kelas A atau kelas B, Apar kelas B harus ditentukan dan ditempatkan dengan dasar bahaya Kelas A atau Kelas B.

Distribusi APAR Kelas D

APAR kelas D atau media pemadamnya harus ditempatkan tidak boleh lebih dari 75 ft (22.9) dari jarak tempuk bahaya Kelas D.

Apar CO2
Merupakan bahan yang tidak merusak dengan daya padam yang efektif dan bersih. Semua model
mempunyai corong anti elektrostatik yang non-konduktif dan sangat cocok digunakan untuk cairan
yang mudah terbakar dan bahaya kebakaran yang disebabkan oleh listrik. Sangat cocok untuk
peralatan elektronik dan perkantoran modern.
















Dry Powder ABC
merupakan alat pemadam api serbaguna untuk memadamkan semua resiko kebakaran kelas A, B,
C dan E. Dibuat secara khusus untuk memadamkan api dengan cepat yang diakibatkan oleh listrik,
bahan padat maupun cairan serta gas yang mudah terbakar. Dry Powder ABC  juga efektif untuk
melindungi kendaraan anda.


<-->


Jumat, 20 Februari 2015

Alat Pemadam Api Ringan / Portable Fire Extinguisher (NFPA 10)

Hunian tingkat bahaya kebakaran ringan misalnya kantor, ruang kelas, gereja, tempat perkumpulan (assembly halls), kamar tamu hotel/motel dan sebagainya.
Hunian tingkat bahaya kebakaran sedang misalnya area restoran (dining area), pertokoan (mercantil shop) beserta gudangnya, pabrik skala kecil, r kerja penelitian, r pameran otomotif (auto showrooms), garasi parkir, workshop atau area penunjang layanan hunian tingkat bahaya kebakaran sedang, dan gudang yang berisi komoditi kelas I atau kelas II seperti yang didefinisikan pada NFPA 13.
Hunian tingkat bahaya kebakaran berat misalnya pekerjaan perkayuan, bengkel kendaraan, layanan aircraft dan kapal, area memasak, showroom untuk produk tunggal, pameran besar dan gudangnya, proses manufaktur seperti pengecatan, pencelupan dan pelapisan, termasuk penanganan zat cair mudah terbakar. Termasuk juga pergudangan atau gudang proses selain komoditi kelas I dan kelas II.

Faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi APAR :
1. Luas dan susunan kondisi hunian gedung
2. Tingkat bahaya kebakaran
3. Kelas api yang akan diantisipasi
4. Sistem dan peralatan perlindungan lainnya.
5. Jarak tempuh untuk mencapai apar.
Sebagai tambahan, faktor-faktor berikut perlu dipertimbangkan:
1. Laju penyebaran kebakaran yang diantisipasi
2. Intensitas dan laju kenaikan panas
3. Asap yang dihasilkan dari benda yang terbakar
4. Aksesbilitas kebakaran untuk dijangkau dengan apar

Faktor-faktor untuk memilih apar yang tepat sesuai situasi :
1. Sifat bahan atau materi yang mudah terbakar yang dapat terpicu
2. Tingkat potensi kebakaran yang dihasilkan
3. Keefektifan apar pada kebakaran
4. Kemudahan pemakaian apar
5. Ketersediaan personel untuk mengoperasikan apar dan kemampuan fisik dan reaksi emosional yang dipengaruhi hasil pelatihan.
6. Kondisi temperatur lingkungan dan kondisi atmospir khusus lainnya (angin, aliran udara, adanya asap)
7. Kesesuaian apar dengan lingkungannya
8. Berbagai antisipasi reaksi merugikan antara apar dan material yang terbakar
9. Kepedulian terhadap kesehatan dan keselamatan operasi
10. Syarat pemeliharaan dan perawatan apar

Perencana proteksi kebakaran dapat membantu untuk menjamin pemilihan apar yang tepat dengan mengikuti prosedur sebagai berikut:
1. Menempatkan apar yang tepat dekat dengan bahaya kebakaran.
2. Menggunakan apar yang dapat digunakan lebih dari satu kelas kebakaran.
3. Penandaan yang jelas sesuai peruntukannya.
4. Melatih pekerja agar dapat menggunakan apar yang tepat.


Peletakan di dalam gedung.
Penempatan aktual apar dapat dilakukan dengan tepat melalui survei fisik dari  area yang ingin dilindungi. Secara umum, lokasi yang dipilih seharusnya memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Distribusi yang merata
2. kemudahan aksesbilitas
3. relatif bebas dari blokade barang penyimpanan atau peralatan, atau keduanya
4. dekat dengan jalur jalan yang umum
5. dekat dengan pintu masuk dan keluar
6. bebas dari kemungkinan kerusakan fisik
7. selalu jelas terlihat
8. ditentukan berdasar lantai per lantai